Menggeser Narasi Riset: Dari Menara Gading Menuju Ekonomi Berbasis Inovasi
Menggeser Narasi Riset: Dari Menara Gading Menuju Ekonomi Berbasis Inovasi
Indonesia kini berada di persimpangan jalan menuju visi Indonesia Emas 2045. Di tengah tantangan global, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di bawah kepemimpinan Arif Satria tengah melakukan transformasi besar-besaran. Bukan lagi sekadar riset untuk publikasi, BRIN kini mengarahkan kemudinya menuju riset yang berorientasi pada hasil nyata (outcome) dan dampak langsung bagi masyarakat serta industri.
1. Anggaran 12 Triliun: Investasi, Bukan Beban
Kabar mengenai kenaikan anggaran riset hingga Rp12 triliun pada tahun 2026 menjadi angin segar bagi ekosistem sains nasional. Namun, Arif Satria menekankan bahwa ini bukan sekadar tentang besaran angka, melainkan efektivitas penggunaannya.
Anggaran ini diprioritaskan untuk:
Modernisasi Infrastruktur: Mengganti alat-alat laboratorium yang sudah usang agar peneliti tidak "lebih muda dari alatnya".
Dukungan SDM: Memberikan insentif dan bantuan biaya publikasi internasional (APC support) agar peneliti tidak lagi harus "arisan" untuk membayar jurnal Scopus.
2. Rumah Inovasi Indonesia: Meruntuhkan Menara Gading
Salah satu terobosan paling konkret dalam 100 hari kerja adalah konsep Rumah Inovasi Indonesia. Selama ini, hasil riset sering dianggap sulit diakses oleh dunia luar. Rumah Inovasi hadir sebagai one-stop service dan etalase bagi industri dan investor (venture capital) untuk melihat langsung prototipe karya anak bangsa. Ini adalah upaya nyata untuk menjembatani jurang antara laboratorium riset dengan kebutuhan pasar.
3. "Forecasting" Teknologi: Menatap 2045
Indonesia tidak boleh terus menjadi penonton atau sekadar pasar bagi teknologi negara maju. Melalui Future Technology Forecasting, BRIN berupaya memetakan kebutuhan teknologi 10 hingga 20 tahun ke depan. Beberapa riset futuristik yang sedang dikembangkan meliputi:
Bio-computing: Eksplorasi penyimpanan data raksasa menggunakan molekul DNA.
Material Science: Kolaborasi dengan peraih Nobel, Susumu Kitagawa, untuk mengembangkan material baru yang mampu meningkatkan efisiensi penyimpanan energi secara drastis.
4. Menghidupkan Kembali Pride Dirgantara dan Antariksa
Visi besar Presiden pertama Indonesia, Soekarno, dan teknokrat B.J. Habibie tentang kedaulatan dirgantara kini dihidupkan kembali. Proyek strategis seperti:
Space Port Biak: Ambisi Indonesia memiliki bandara antariksa sendiri agar tidak bergantung pada negara lain untuk meluncurkan satelit.
N219 Amfibi: Solusi konektivitas bagi negara kepulauan, memungkinkan pesawat mendarat di perairan tanpa memerlukan landasan pacu aspal yang mahal di daerah terpencil.
5. Membangun Kepercayaan Diri Bangsa
Arif Satria menegaskan bahwa riset bukan sekadar soal angka GDP, melainkan soal kepercayaan diri bangsa. Ia mengambil contoh Korea Selatan dan Brasil yang sukses membangun industri strategis karena mereka "berani bermimpi" dan konsisten menjaganya.
Transformasi BRIN juga mencakup kesejahteraan dan fleksibilitas peneliti. Kebijakan mengembalikan peneliti ke daerah (homebase) dan penyederhanaan laporan administratif menunjukkan bahwa BRIN mulai mendengar suara dari bawah agar periset bisa fokus pada "jiwa" penelitiannya, bukan terjebak dalam tumpukan dokumen.
Sudut Pandang
Transisi dari ekonomi berbasis sumber daya alam (natural resource-based) menuju ekonomi berbasis inovasi (innovation-based) bukanlah perjalanan instan. Dibutuhkan waktu puluhan tahun untuk meraih Nobel atau mendominasi pasar teknologi global. Namun, dengan fondasi yang kuat, transparansi digital melalui Research Control Center, dan keberpihakan pada kualitas SDM, Indonesia tengah menapaki jalan yang benar menuju kedaulatan sains yang sesungguhnya.
Source : KOMPAS








