Tanaman Ini Dianggap Hama di RI, Ternyata Jadi Buruan China-Amerika
Tanaman Ini Dianggap Hama di RI, Ternyata Jadi Buruan China-Amerika
Di berbagai sudut Indonesia, antanan—yang juga dikenal sebagai pegagan atau Centella asiatica—tumbuh tanpa banyak perhatian. Tanaman ini kerap dijumpai di pematang sawah, tepi jalan, hingga ladang, dan sering dianggap sebagai gulma. Namun kini, daun kecil tersebut mulai naik kelas: dari tanaman liar menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi.
Secara botani dan farmakologi, Centella asiatica merupakan tanaman tropis yang berasal dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia, serta tersebar di India, China, Jepang, dan Australia. Tanaman ini memiliki beragam nama lokal, seperti pegaga (Aceh), daun kaki kuda (Melayu), ampagaga (Batak), antanan (Sunda), sarowati (Maluku), bebele (Nusa Tenggara), hingga dougauke (Papua).
Nilai antanan terletak pada kandungan kimianya yang kaya. Daun pegagan mengandung berbagai senyawa aktif seperti asiaticoside, madecassoside, brahmoside, flavonoid, dan polifenol, serta mineral penting seperti kalium, natrium, dan magnesium. Kandungan ini membuatnya memiliki manfaat luas di bidang kesehatan dan kecantikan.
Secara ilmiah, ekstrak etanol daun pegagan diketahui mampu menghambat pertumbuhan tumor melalui mekanisme antiangiogenesis, yaitu menghambat pembentukan pembuluh darah baru yang dibutuhkan sel tumor untuk berkembang. Dalam pengujian CAM (chorioallantoic membrane), dosis tertinggi sebesar 180 µg menunjukkan tingkat angiogenesis paling rendah, menandakan adanya efek biologis yang signifikan.
Tidak hanya di bidang farmasi, antanan juga semakin populer di industri kecantikan. Kandungan triterpenoid seperti asiaticoside dan madecassoside berfungsi sebagai antioksidan dan antiinflamasi, mempercepat penyembuhan luka, meningkatkan produksi kolagen, menenangkan kulit, serta menjaga kelembapan. Tak heran jika centella kini menjadi bahan utama dalam berbagai produk skincare seperti serum, toner, dan krim wajah.
Di balik manfaat tersebut, tren ekspor antanan menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Centella asiatica (HS 12119019) meningkat signifikan dari US$ 195.749 pada 2020 menjadi US$ 365.044 pada 2023, lalu melonjak tajam menjadi US$ 1.154.326 pada 2024—atau naik sebesar 216%. Dalam kurun empat tahun, nilainya meningkat hampir enam kali lipat.
Lonjakan ini menandakan bahwa antanan bukan lagi sekadar komoditas herbal domestik, melainkan telah menjadi bahan baku global. Permintaan dunia terhadap produk berbasis centella—baik untuk obat tradisional, suplemen, maupun kosmetik—terus meningkat, dan Indonesia mulai mengambil peran dalam rantai pasok tersebut.
Dari sisi pasar tujuan, data Kementerian Perdagangan untuk HS 12119099 periode September 2024–September 2025 menunjukkan India sebagai pasar terbesar, disusul oleh China, Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan. Negara-negara ini dikenal sebagai pusat industri farmasi, herbal, dan kosmetik global, sehingga posisi antanan Indonesia menjadi semakin strategis.
India dan China memiliki industri obat tradisional berskala besar, sementara Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan merupakan pasar utama produk kecantikan berbasis bahan alami. Dalam konteks ini, antanan tidak lagi dipandang sebagai daun kering biasa, melainkan sebagai bahan aktif bernilai tinggi dengan potensi antioksidan, antiinflamasi, dan antiangiogenesis.
Di sinilah antanan menemukan peran barunya: dari tanaman liar di pematang sawah menjadi komoditas strategis lintas benua, dengan nilai yang kini ditentukan oleh riset ilmiah dan dinamika pasar global.
Source : CNBC






