Keuangan Anda Sehat atau Diam-Diam Bermasalah? Cek dengan 4 Rasio Ini!
Keuangan Anda Sehat atau Diam-Diam Bermasalah? Cek dengan 4 Rasio Ini!
Dalam menganalisis kesehatan keuangan pribadi atau keluarga, kita juga bisa menggunakan analisis rasio keuangan. Namun, sebelum melakukan pengecekan kesehatan keuangan Anda, diperlukan data keuangan berupa neraca dan cash flow (catatan kas/laporan pengeluaran dan pemasukan).
Bagaimana menyusun laporan kas, cukup melakukan pencatatan pendapatan dan pengeluaran. Selisih pendapatan-pengeluaran akan menunjukkan angka surplus (kelebihan) atau defisit (kekurangan). Pencatatan yang terpenting dari kas ini ada tiga:
Pengeluaran konsumsi (makan minum, toileting, kebutuhan rumah tangga, dan barang konsumsi lainnya),
Modal kerja (investasi, pengeluaran sehubungan dengan pekerjaan, dan termasuk cicilan aset),
Charity/sedekah (zakat, infak, sedekah, investasi haji-umrah, biaya pendidikan anak, dana darurat/asuransi, dll.)
Baik surplus maupun defisit belum mencerminkan kondisi kesehatan keuangan secara keseluruhan. Untuk itu, perlu disusun neraca yang berisi harta (aktiva) di kolom sebelah kiri, meliputi: cadangan kas (uang tunai), aset investasi yang likuid dan tidak likuid (termasuk konsumtif atau produktif). Lalu di kolom sebelah kanan memuat informasi utang jangka pendek, menengah, dan panjang, yang diikuti dengan pencatatan kekayaan bersih (pasiva), yaitu hasil pengurangan aset dengan utang.
Setelah memiliki data laporan keuangan tersebut, gunakan rasio-rasio di bawah ini:
Rasio keuangan tunai: rasio terpenting adalah liquidity ratio. Rasio yang mengindikasikan berapa lama keuangan Anda dapat menutupi kebutuhan rutin bulanan/tahunan, bila tidak menerima penghasilan sama sekali. Sebagai contoh, jumlah uang tunai cadangan dalam tabungan dan deposito Rp 5 juta dan jumlah pengeluaran bulanan Rp 3 juta. Jadi rasio likuiditas = 5.000.000 : 3.000.000 = 1,67. Rasio ini menunjukkan kemampuan aset likuid untuk menutup kebutuhan bulanan selama 1,67 bulan atau 1 bulan 20 hari. Secara umum angka rasio yang disarankan antara 3–6 bulan.
Rasio utang: rasio terpenting adalah debt service ratio. Contoh, kewajiban cicilan utang yang harus dibayar dalam waktu satu tahun Rp 18,5 juta, total pemasukan satu tahun Rp 73 juta (kedua informasi didapat dari laporan kas), sehingga rasio = 18.500.000 / 73.000.000 = 0,25. Ini berarti 25 persen penghasilan Anda telah teralokasikan untuk membayar utang, atau dengan kata lain Anda masih memiliki 75 persen penghasilan untuk dikelola secara bebas. Rasio maksimum yang dianjurkan adalah sekitar 30–35 persen.
Selain itu, ada debt to asset ratio dan solvency ratio. Rasio ini menunjukkan seberapa rentan Anda terhadap risiko kebangkrutan.
Rasio investasi: rasio terpenting adalah saving ratio. Rasio ini berguna untuk menunjukkan apakah Anda telah menabung cukup dana untuk memenuhi kebutuhan keuangan. Contoh, apabila jumlah tabungan dalam satu tahun Rp 8 juta, sedangkan jumlah penghasilan tahunan Rp 73 juta, maka rasio kekuatan menabung = 8.000.000 / 73.000.000 = 0,11 atau 11 persen. Minimumnya rasio ini 10 persen, artinya pendapatan yang dihasilkan tidak habis dikonsumsi atau digunakan oleh modal kerja yang bersifat pasif.
Rasio penting lainnya adalah net investment assets to net worth ratio (kedua informasi didapat dari laporan neraca). Rasio ini membandingkan nilai aset aktif dengan nilai kekayaan bersih Anda. Skor minimum 50 persen.
Source : Agus Rial, S.E., Perencana Keuangan





