10 Produk Paling Banyak Diimpor RI dari Venezuela: Ada “Bonggol Sayur”
10 Produk Paling Banyak Diimpor RI dari Venezuela: Ada “Bonggol Sayur”
Sepanjang Januari–Desember 2025, impor Indonesia dari Venezuela tercatat hanya sebesar US$14 juta, turun 31,12% secara tahunan (yoy). Sementara itu, ekspor Indonesia ke Venezuela mencapai US$69 juta, sehingga neraca perdagangan mencatat surplus US$55 juta, melonjak 91,70% (yoy).
Angka ini menegaskan satu hal: Venezuela bukan pemasok strategis bagi kebutuhan industri Indonesia, melainkan hanya mitra dagang ceruk untuk komoditas tertentu. Secara global pun, nilai impor Indonesia dari Venezuela memang sangat kecil, hanya sekitar US$14,16 juta pada 2025.
Impor Terkunci di Dua Komoditas
Struktur impor Indonesia dari Venezuela sangat terkonsentrasi. Dua kelompok barang menyerap hampir seluruh nilai impor:
Kakao dan olahannya (HS 18): US$6,89 juta
Sayuran dan umbi-umbian (HS 07), termasuk “bonggol sayur”: US$6,80 juta
Secara gabungan, keduanya menyumbang hampir 97% dari total impor.
Di luar itu, nilai impor langsung turun tajam:
Aluminium (HS 76): sekitar US$0,25 juta
Biji dan buah berminyak (HS 12): sekitar US$0,04 juta
Produk manufaktur (mesin, tekstil): di bawah US$0,02 juta
Dominasi ini juga tercermin dalam data perdagangan yang menunjukkan komoditas pangan seperti kacang-kacangan dan kakao menjadi tulang punggung impor dari Venezuela.
10 produk yang diimpor Indonesia dari Venezuela
(data terbaru sekitar 2025):
- Sayuran kacang-kacangan kering (kacang hijau, kacang urad, dll)
- Biji kakao (mentah maupun sangrai)
- Bubuk kakao murni tanpa gula
- Aluminium mentah (paduan)
- Kacang tanah kupas (tidak disangrai)
- Kabel listrik berisolasi (koaksial dan sejenisnya)
- Karet divulkanisir (sabuk konveyor/transmisi)
- Pakaian renang wanita/anak perempuan (non-rajut)
- Segel dari karet non-seluler
- Segel mekanis
Tren Melemah, Bukan Menguat
Arah perubahan impor juga menunjukkan pelemahan:
Kakao turun 47,5% (yoy)
Aluminium turun hampir 48% (yoy)
Artinya, pasokan bahan baku dari Venezuela ke Indonesia sedang menyusut, bukan berkembang.
Satu-satunya kelompok besar yang masih tumbuh adalah sayuran dan umbi-umbian, dengan kenaikan tipis 1,64%. Ini mengindikasikan pola perdagangan yang lebih didorong oleh kebutuhan pangan, bukan kebutuhan industri.
Lonjakan Tinggi Tapi “Kosong Nilai”
Di sisi lain, beberapa komoditas mencatat lonjakan ekstrem secara persentase:
Mesin & peralatan listrik (HS 85): +10.958%
Pakaian non-rajut (HS 62): +540%
Namun secara nominal, nilainya sangat kecil:
Mesin listrik: hanya sekitar US$0,014 juta
Pakaian: sekitar US$0,00029 juta
Kenaikan ini lebih mencerminkan efek basis rendah (low base effect), bukan perubahan struktur perdagangan.
Kenapa Polanya Seperti Ini?
Jawabannya ada pada struktur ekonomi Venezuela.
Meski dikenal sebagai negara kaya minyak, dalam praktik perdagangan dengan Indonesia, yang mengalir justru komoditas sederhana seperti:
kakao
kacang-kacangan
umbi-umbian
Komoditas ini:
mudah diperdagangkan
tidak membutuhkan pembiayaan kompleks
sesuai dengan kebutuhan industri makanan Indonesia
Sebaliknya, produk manufaktur Venezuela tidak kompetitif dari sisi harga, volume, maupun stabilitas pasokan.
Hubungan Dagang yang Semakin Asimetris
Kondisi ini membuat hubungan dagang Indonesia–Venezuela semakin timpang:
Indonesia mengekspor barang bernilai tambah tinggi (kendaraan, produk manufaktur, tekstil)
Venezuela memasok bahan mentah dan pangan bernilai relatif rendah
Akibatnya, meski Venezuela adalah negara produsen minyak besar, Indonesia tidak bergantung pada negara tersebut untuk kebutuhan energi maupun rantai pasok strategis.
Sudut Pandang
Venezuela bagi Indonesia bukan mitra inti, melainkan pemasok pinggiran yang hanya relevan untuk komoditas tertentu.
Source : cnbcindonesia









