RI Mau Bangun Storage Minyak Mentah untuk 3 Bulan, Investor Sudah Ada

RI Siapkan Infrastruktur Penyimpanan Minyak Mentah untuk Capai Cadangan 3 Bulan





Pemerintah Indonesia melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengumumkan rencana strategis pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah (crude oil storage) dengan kapasitas yang jauh lebih besar dibandingkan kondisi saat ini. Tujuan utamanya adalah meningkatkan ketahanan energi nasional dan menyesuaikan kapasitas cadangan minyak Indonesia dengan standar internasional yang umum digunakan oleh negara-negara maju.




Kondisi Saat Ini: Cadangan Hanya Cukup untuk ~25 Hari


Saat ini kapasitas penyimpanan minyak di Indonesia baru mampu menahan stok untuk sekitar 25–26 hari kebutuhan nasional. Angka ini dinilai masih rendah, terutama bila dibandingkan dengan standar 90 hari (3 bulan) yang direkomendasikan internasional sebagai buffer terhadap gangguan pasokan global.





Bahlil menjelaskan bahwa keterbatasan fasilitas infrastruktur penyimpanan bukan karena kurangnya stok minyak, tetapi karena tidak ada tempat penyimpanan yang memadai untuk menyimpan stok dalam jumlah besar. “Bukan kita tidak punya cadangan untuk mengisi minyak, tapi sekarang mau taruh di mana? Storage kita belum memadai,” tegasnya.





Target 90 Hari: Sesuai Standar Internasional


Pemerintah menargetkan pembangunan storage baru yang mampu menampung cadangan minyak hingga 90 hari atau setara tiga bulan konsumsi dalam negeri. Target ini diambil untuk menempatkan Indonesia pada level keamanan energi yang setara dengan negara-negara lain yang telah memiliki buffer besar untuk menghadapi guncangan harga atau pasokan.





Kebijakan ini juga sejalan dengan rekomendasi dari lembaga energi global seperti International Energy Agency (IEA), yang menganggap cadangan 90 hari sebagai standar minimal untuk negara pemakai besar agar terhindar dari dampak fluktuasi pasar global.




Investor Sudah Ada, Skema Pendanaan Campuran


Menteri Bahlil menyatakan bahwa investor telah siap untuk terlibat dalam proyek ini. Pendanaan diperkirakan berasal dari kombinasi modal dalam negeri dan luar negeri, meskipun tanpa melibatkan investor dari Amerika Serikat. Skema ini memungkinkan pembangunan dilakukan bersama dengan pihak swasta yang berminat.


Meski demikian, pemerintah masih dalam tahap penyusunan studi kelayakan (feasibility study/FS) sebelum masuk ke fase konstruksi, dengan harapan pembangunan dapat dimulai tahun ini.




Lokasi Potensial: Sumatera


Mengenai lokasi pembangunan, Bahlil menyebut salah satu area yang paling layak dikembangkan adalah pulau Sumatera, meskipun detail lokasi spesifik seperti kabupaten atau titik pasti belum diputuskan. Sumatera dipilih karena letaknya strategis untuk distribusi dan logistik energi nasional.





Signifikansi dan Tantangan Kebijakan


Strategi ini menjadi sangat relevan di tengah kondisi geopolitik global yang fluktuatif, seperti konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu jalur pasokan minyak dunia. Ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak, termasuk yang melalui Selat Hormuz, menjadikan buffer penyimpanan 90 hari semakin penting untuk mengantisipasi gangguan pasokan.


Namun, pembangunan storage dalam skala besar juga menghadapi tantangan, seperti volume investasi yang diperlukan, layanan logistik terpadu, serta harmonisasi dengan rencana pembangunan kilang dan infrastruktur hilir lain yang tengah dijalankan pemerintah.




Inti Rencana Proyek


Tujuan utama: Meningkatkan cadangan minyak nasional dari ~25 hari menjadi 90 hari.


Standar internasional: 3 bulan reserve sesuai rekomendasi global.





Pendanaan: Investasi campuran dalam dan luar negeri, investor sudah siap.


Lokasi: Sumatera sebagai salah satu kandidat utama.


Target waktu: Studi kelayakan sedang disiapkan, konstruksi diharapkan mulai tahun 2026.



Source : Finance Detik

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *