Merawat Tanah dan Jalan Sunyi: Wahyudin Mengubah Wajah Kalongliud

Merawat Tanah dan Jalan Sunyi: Wahyudin Mengubah Wajah Kalongliud





Di tengah kegelisahan masyarakat Kalongliud terhadap maraknya aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI), seorang pemuda bernama Wahyudin memilih menempuh jalan berbeda. Alih-alih terjebak pada arus ekonomi instan dari tambang ilegal, ia justru mengajak masyarakat kembali melihat potensi yang selama ini terabaikan: tanah pertanian.


Bagi Wahyu, solusi terhadap persoalan sosial dan ekonomi di desa tidak selalu harus datang dari program besar atau investasi besar. Terkadang jawabannya justru berada sangat dekat, bahkan tepat di bawah kaki masyarakat sendiri.





“Pencegahan PETI tidak cukup hanya dengan penertiban. Masyarakat butuh alternatif ekonomi yang lebih aman dan layak,” tegas Wahyu.



Kekhawatiran yang Menjadi Penggerak


Wahyudin melihat dua persoalan utama yang mengancam masa depan masyarakat Kalongliud: banyaknya lahan pertanian yang terbengkalai dan terbatasnya lapangan pekerjaan. Kondisi tersebut secara perlahan mendorong sebagian warga mencari penghasilan dari aktivitas tambang ilegal.


Menurutnya, jika keadaan ini dibiarkan, maka semakin banyak masyarakat yang akan tergoda memilih jalan pintas meskipun penuh risiko, baik dari sisi hukum maupun kerusakan lingkungan.





“Kekhawatiran atas banyaknya lahan tidur dan terbatasnya lapangan pekerjaan menjadi penggerak saya untuk berkontribusi di Kalongliud. Saya khawatir, jika tidak ditangani segera, akan banyak masyarakat yang beralih menjadi PETI,” kata Wahyu.


Kekhawatiran itulah yang kemudian mendorongnya untuk mengambil langkah nyata. Ia mulai mengajak warga melihat kembali potensi lahan pertanian yang selama ini kurang dimanfaatkan.



Menghidupkan Kembali Lahan Tidur


Bagi Wahyu, tanah yang terbengkalai bukanlah sekadar lahan kosong. Di matanya, itu adalah kesempatan ekonomi yang belum digarap.


Ia mulai menginisiasi pemanfaatan lahan tidur untuk berbagai kegiatan pertanian produktif. Pendekatan yang dilakukan tidak hanya sebatas mengajak masyarakat bertani, tetapi juga memberikan pemahaman bahwa pertanian bisa menjadi sumber penghasilan yang stabil jika dikelola dengan baik.





Langkah kecil ini perlahan mulai membuahkan hasil. Beberapa warga yang sebelumnya ragu mulai ikut terlibat dalam kegiatan pertanian. Mereka menyadari bahwa mengelola tanah sendiri jauh lebih aman dibandingkan bekerja di tambang ilegal yang penuh risiko.


Selain itu, kegiatan pertanian juga membantu memperkuat hubungan sosial di masyarakat. Gotong royong kembali terasa ketika warga bersama-sama mengolah lahan, menanam, hingga memanen hasilnya.





Jalan Sunyi yang Dipilih


Apa yang dilakukan Wahyu bukanlah pekerjaan mudah. Mengubah pola pikir masyarakat yang sudah lama bergantung pada tambang ilegal membutuhkan waktu, kesabaran, dan ketekunan.


Namun ia percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil.


Wahyudin menyadari bahwa perjuangannya mungkin tidak selalu terlihat atau mendapatkan perhatian luas. Namun baginya, selama masyarakat mulai kembali memanfaatkan tanah dan menjauhi aktivitas tambang ilegal, itu sudah menjadi kemenangan tersendiri.


Ia menyebut perjuangannya sebagai “jalan sunyi”—jalan yang mungkin tidak ramai, tetapi membawa harapan bagi masa depan desa.




Harapan bagi Masa Depan Kalongliud


Melalui upaya sederhana menghidupkan kembali sektor pertanian, Wahyudin berharap masyarakat Kalongliud dapat memiliki pilihan ekonomi yang lebih berkelanjutan.





Jika lahan-lahan yang selama ini terbengkalai dapat dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin Kalongliud justru menjadi desa yang kuat di sektor pertanian.


Lebih dari sekadar soal ekonomi, upaya ini juga bertujuan menjaga lingkungan agar tetap lestari. Tanah yang dirawat akan memberikan manfaat jangka panjang bagi generasi berikutnya, berbeda dengan aktivitas tambang ilegal yang sering meninggalkan kerusakan.





Bagi Wahyu, masa depan desa tidak harus dibangun dengan cara yang merusak alam. Justru dengan merawat tanah, masyarakat dapat menemukan kembali keseimbangan antara ekonomi, lingkungan, dan kehidupan sosial.


Dan dari langkah kecil itulah, wajah Kalongliud perlahan mulai berubah.



Source : CNBC INDONESIA

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *