Luar Biasa, Omzet Tempe Per Tahun Capai Rp 15 Triliun

Luar Biasa, Omzet Tempe Per Tahun Capai Rp 15 Triliun




Banyak orang masih memandang sebelah mata produk makanan yang satu ini. Padahal, kalau dimakan dengan soto hangat atau nasi putih sederhana, rasanya luar biasa nikmat. Namun ironisnya, istilah “mental tempe” sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang lemah atau penakut. Bahkan tak jarang kita mendengar candaan, “Mau makan ayam? Mahal! Ada tempe juga sudah alhamdulillah.”


Tempe seolah identik dengan makanan rakyat jelata dan sering dicap sebagai makanan murah. Di kalangan tertentu, ada anggapan bahwa tempe bukanlah makanan “berkelas”. Padahal kenyataannya, banyak juga orang berada yang tetap mengonsumsi tempe—hanya saja dalam bentuk yang lebih modern seperti burger tempe, steak tempe, atau olahan kekinian lainnya. Bahkan, tidak sedikit yang diam-diam tetap menyukai tempe karena cita rasanya yang khas dan tidak tergantikan.




Di balik stigma tersebut, tempe sebenarnya menyimpan potensi ekonomi yang luar biasa besar. Siapa sangka, produk sederhana berbahan dasar kedelai ini mampu menghasilkan omzet hingga Rp 15 triliun per tahun di Indonesia. Angka ini tentu bukan angka kecil, bahkan bisa disejajarkan dengan industri makanan besar lainnya.


Tidak percaya? Faktanya, industri tempe sebagian besar digerakkan oleh pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM). Mereka memproduksi tempe secara rumahan dengan teknik tradisional yang sudah diwariskan turun-temurun. Meskipun terlihat sederhana, skala produksinya sangat luas dan tersebar di seluruh penjuru Indonesia.




Omzet fantastis tersebut sebagian besar masih bergantung pada pasar lokal. Distribusi tempe banyak dilakukan melalui pasar tradisional, tukang sayur keliling, hingga pasar swalayan. Namun, karena sifatnya yang tidak tahan lama, pemasaran tempe memiliki tantangan tersendiri. Itulah sebabnya banyak perajin lebih memilih menjual langsung ke konsumen agar kualitas tetap terjaga.


Di pasar modern, tempe biasanya disimpan dalam lemari pendingin agar masa simpannya lebih panjang. Namun, inovasi dalam pengemasan dan pengolahan masih terus dikembangkan untuk meningkatkan daya tahan dan nilai jual produk ini.




Menurut Ketua Umum Induk Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Inkopti), upaya untuk membawa tempe ke pasar internasional terus dilakukan. Tempe bukan hanya sekadar makanan tradisional, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai produk ekspor unggulan Indonesia.


Beberapa negara seperti Malaysia, Brunei, Thailand, dan Filipina menjadi target pasar karena memiliki karakter konsumsi yang mirip dengan Indonesia. Selain itu, di negara-negara Barat, tempe mulai dikenal sebagai makanan sehat berbasis nabati (plant-based food) yang kaya protein, sehingga peluang ekspornya semakin terbuka lebar.




Untuk mendukung hal ini, para perajin didorong untuk terus berinovasi, baik dari segi rasa, kemasan, maupun teknik produksi. Produk tempe kini tidak lagi terbatas pada bentuk tradisional, tetapi sudah berkembang menjadi keripik tempe, nugget tempe, hingga makanan siap saji berbahan tempe.


Namun, tantangan tetap ada. Salah satu kendala utama yang dihadapi perajin adalah keterbatasan modal dan akses terhadap teknologi modern. Oleh karena itu, dukungan dari perbankan, pemerintah, dan berbagai pihak sangat dibutuhkan agar industri tempe dapat naik kelas dan bersaing di pasar global.




Berdasarkan data, saat ini terdapat sekitar 115.000 perajin tahu dan tempe di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 40.000 tergabung dalam Inkopti yang tersebar di berbagai wilayah seperti Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, hingga luar Pulau Jawa seperti Sumatera dan Kalimantan.


Jumlah ini menunjukkan bahwa tempe bukan sekadar makanan, melainkan juga sumber penghidupan bagi ratusan ribu keluarga di Indonesia. Industri ini menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi masyarakat kecil.




Ke depan, tempe memiliki peluang besar untuk menjadi ikon kuliner Indonesia di kancah dunia. Dengan strategi branding yang tepat, inovasi berkelanjutan, dan dukungan ekosistem bisnis yang kuat, bukan tidak mungkin tempe akan dikenal luas seperti halnya sushi dari Jepang atau kimchi dari Korea.


Jadi, sudah saatnya kita berhenti memandang tempe sebelah mata. Di balik kesederhanaannya, tempe menyimpan kekuatan besar—baik dari sisi gizi, budaya, maupun ekonomi. Bahkan, bisa jadi inilah salah satu kunci kekuatan ekonomi Indonesia di masa depan.




Source : KONTAN




Postingan Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *