Ekonomi RI Tumbuh 5,11% pada 2025, Masih di Bawah Vietnam dan Malaysia

Ekonomi RI Tumbuh 5,11% pada 2025, Masih di Bawah Vietnam dan Malaysia





Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 tercatat sebesar 5,11%. Angka ini menunjukkan bahwa perekonomian nasional masih berada dalam jalur pertumbuhan positif, meskipun secara regional Indonesia masih berada di bawah beberapa negara Asia Tenggara seperti Vietnam dan Malaysia yang mencatat pertumbuhan ekonomi lebih tinggi.





Meski demikian, pemerintah menilai kondisi ekonomi Indonesia tetap menunjukkan stabilitas yang kuat, terutama dari sisi pengelolaan fiskal.




Defisit APBN Tetap Terkendali


Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia pada 2025 berada di level 2,9% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).


Menurutnya, angka ini menunjukkan bahwa pemerintah berhasil menjaga disiplin fiskal di tengah tantangan ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.





“Defisit fiskal Indonesia masih relatif rendah dibandingkan banyak negara lain, sekaligus tetap mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi,” ujarnya dalam sebuah kesempatan.





Stabilitas Fiskal Jadi Kekuatan Indonesia


Purbaya menegaskan bahwa keberhasilan menjaga defisit APBN di bawah batas 3% merupakan sinyal positif bagi pasar dan investor. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia mampu menjalankan kebijakan fiskal yang hati-hati namun tetap mendukung pertumbuhan ekonomi.





Selain defisit yang terkendali, pemerintah juga menyoroti rasio utang pemerintah terhadap PDB yang masih berada dalam batas aman. Dengan pengelolaan yang disiplin, pemerintah berupaya menjaga kepercayaan investor sekaligus mempertahankan stabilitas ekonomi makro.







Tantangan dari Negara Tetangga


Walaupun pertumbuhan ekonomi Indonesia masih cukup kuat di kisaran 5%, negara-negara seperti Vietnam dan Malaysia mencatat laju pertumbuhan yang lebih tinggi pada periode yang sama.


Vietnam misalnya terus menikmati lonjakan investasi asing dan ekspor manufaktur, sementara Malaysia mendapatkan dorongan dari sektor industri, energi, dan perdagangan global.


Kondisi ini menjadi pengingat bahwa Indonesia masih perlu memperkuat daya saing, terutama dalam sektor industri, investasi, dan produktivitas tenaga kerja agar mampu bersaing di kawasan Asia Tenggara.





Optimisme Pemerintah


Meski menghadapi persaingan regional, pemerintah tetap optimistis terhadap prospek ekonomi Indonesia. Stabilitas fiskal, pasar domestik yang besar, serta pembangunan infrastruktur yang terus berjalan menjadi faktor utama yang diyakini akan menjaga pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah.





Dengan kombinasi pertumbuhan yang stabil dan defisit fiskal yang terkendali, pemerintah berharap Indonesia tetap menjadi salah satu ekonomi paling resilien di kawasan Asia Tenggara.



Source : Finance Detik, CNBC

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *