Dari Ular Menakutkan Jadi Tas Mewah: Kisah Wanita Indonesia Menjual Hingga Jutaan Rupiah per Buah

Dari Ular Menakutkan Jadi Tas Mewah: Kisah Wanita Indonesia Menjual Hingga Jutaan Rupiah per Buah




Ular merupakan reptil yang menakutkan bagi sebagian orang. Namun, di mata Tina Sofia (37), ular justru memiliki nilai estetis dan ekonomis. Setelah diolah menjadi aksesori, kulit ular terlihat eksotis dan mengundang untuk dimiliki. Tina sebelumnya berkarier sebagai pegawai swasta selama tujuh tahun.


Awal tahun lalu, seorang penangkap ular datang ke rumahnya untuk meminjam uang. Ia kemudian ditawari tas berbahan kulit ular. Dari situlah muncul ketertarikan terhadap usaha ini.




Ternyata, sangat mudah menemukan ular di pemukiman, perkebunan sawit, ataupun hutan. Yang dapat ditangkap adalah yang tidak dilindungi seperti ular sanca batik. Python reticulatus ini memiliki kulit yang eksotis berwarna kuning keemasan dan kuning kecoklatan, serta harganya cukup tinggi.


Semula, Tina menjual penangkap ular dan kulit ular untuk dijual ke Jakarta. Belakangan, ia mulai tertarik untuk mengolahnya sendiri karena nilai jualnya meningkat signifikan jika sudah menjadi produk jadi.




Namun, prosesnya tidak mudah. Tina mencoba berbagai tempat penyamakan kulit. Ia pun mendatangkan tenaga penyamak dari Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.


Pada uji coba awal, hasil penyamakan ternyata tidak sesuai harapan. Kulit menjadi keras dan kaku. Tina pun kecewa, terlebih dua mesin jahit bekas yang dibelinya juga rusak.


Namun, Tina tidak putus asa. Ia terus menjelajahi pusat-pusat industri penyamakan kulit. Di Karawang, Jawa Barat, ia menemukan seorang ahli penyamakan yang kemudian diajak bekerja sama.




Untuk mengolah kulit ular menjadi produk berkualitas, dibutuhkan proses panjang. Sekitar 15 bahan kimia digunakan untuk penyamakan, dan prosesnya bisa memakan waktu hingga satu minggu.


Prosesnya cukup rumit. Untuk menghasilkan kulit yang lentur, bersih, bebas lemak, dan tidak berbau, dilakukan perendaman berulang dengan bahan kimia tertentu.


Setelah itu, kulit diwarnai sesuai selera dan dilapisi cairan khusus agar terlihat mengilap. Barulah kulit dijahit menjadi tas yang cantik dan eksotis.




MODIFIKASI DENGAN BATIK


Selain tas, Tina juga mengolah kulit ular dan biawak menjadi sepatu, dompet, sabuk, topi, sarung telepon, dan tempat kartu nama. Di rumahnya, taplak meja juga terbuat dari kulit ular.


Tina kemudian membuat tas kulit reptil yang dimodifikasi dengan batik khas Jambi. Ia berencana memadukan tas kulit dengan bahan rotan dan eceng gondok.


Usaha kerajinan kulit reptil ini baru delapan bulan dijalankan dengan merek TM (Tina Mera). Usahanya berkembang pesat. Dalam sebulan, pesanan bisa mencapai 20 tas, belum termasuk dompet dan aksesori lainnya.




Sebagian besar pesanan datang dari kalangan wanita yang gemar berbelanja. Mereka memesan lewat internet dan ada juga yang datang langsung ke rumah produksinya di Jalan Adhyaksa, Thehok, Kota Jambi.


Menurut Amelia Masniah, penulis buku Miss Jinjing: Pantang Mati Gaya, tas produksi Tina tidak kalah dengan produk internasional seperti Adriana Castro dan Bottega Veneta.



Produk internasional tersebut dijual hingga Rp50 juta, sementara tas Tina dijual dengan harga paling mahal sekitar Rp3 juta per buah.


Produk tas kulit reptil Tina sangat eksklusif. Ia hanya membuat satu unit untuk setiap desain dan warna, sehingga sebagian besar produksi berbasis pesanan.




Calon pembeli biasanya mencontoh desain dari luar negeri atau membawa desain sendiri. Hasilnya tetap berkualitas tinggi namun dengan harga lebih terjangkau.


Namun, hingga kini Tina belum mampu memenuhi pesanan dalam jumlah besar karena keterbatasan tenaga kerja dan proses produksi yang memakan waktu hingga 2–3 pekan.



Source : KONTAN




Postingan Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *